Blablablu Ep.5: Brand’s Sustainability Initiave & Waste Management in Indonesia

Tau kan kalau blu punya misi untuk bisa menjadi teknologi yang berdampak positif buat para penggunanya. Bukan hanya sekedar bank digital biasa, blu juga ingin menjaga dan melestarikan alam Indonesia dengan berfokus pada pengelolaan sampah yang lebih baik. blu sudah memulai langkahnya lewat kampanye #blubuatbaik di tahun 2021 ini. Tapi tentunya kita ga akan berhenti disini, maka dari itu di blablablu kali ini blu ngobrol-ngobrol dengan para pakar, aktivis, dan penggiat lingkungan untuk membahas tentang bagaimana brand bisa berkontribusi pada masyarakat dan pengelolaan limbah di Indonesia.

Hari Rabu lalu (6/10), BCA Digital kembali mengadakan kegiatan rutin virtual — Bincang Lucu, Asyik, dan Bermakna ala blu, yaitu “blablablu”. Kali ini, berbeda dengan episode-episode sebelumnya, blablablu untuk pertama kalinya diadakan di Twitter Space!

blablablu episode 5 ini membahas tentang Brand’s Sustainability Initiative & Waste Management in Indonesia. Dengan topik yang seru ini, Nariswari Yudianti, Corporate Communications BCA Digital ditemani oleh Dimas Teguh Prasetyo, Community Empowerment Program Manager Greeneration Foundation, Marisa Thara Wardhani, Head of Brand Partnership Kitabisa, Hans Nicholas, Environmental Journalist di Mongabay, dan Afida Zahar, Activist dan Eco-friendly Entrepreneur, untuk membahas tentang bagaimana brand bisa berkontribusi pada masyarakat dan pengelolaan limbah di Indonesia.

Sobatblu, ini tentunya masih berhubungan dengan misi blu untuk bisa menjadi teknologi yang berdampak positif buat para penggunanya. Bukan hanya sekedar bank digital biasa, blu juga ingin menjaga dan melestarikan alam Indonesia dengan berfokus pada pengelolaan sampah yang lebih baik. Nggak mau masalah lingkungan terus berlarut-larut, blu juga udah berkolaborasi dengan berbagai pihak lho, untuk mulai mengurangi limbah di Indonesia dengan inisiatif #blubuatbaik!

Soalnya, permasalahan lingkungan di Indonesia sebenarnya sangat kompleks dan membutuhkan uluran tangan dari semua pihak. Nggak bisa hanya kerja sendiri, karena tentu dampaknya pun akan sangat terbatas. Ingat sampah, jangan hanya memikirkan soal limbahnya. Lebih daripada itu, isu sampah punya berbagai lapisan yang saling mempengaruhi, bahkan terkait ekonomi dan kesehatan masyarakat juga, lho. Karena itu, penting banget untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah secara umum di lingkungan kita.

Menurut Afida, brand atau perusahaan punya dampak besar terhadap kehidupan konsumennya. Ada kecenderungan bahwa generasi muda sekarang akan lebih condong memilih perusahaan yang memberikan kontribusi positif di isu-isu sosial. Hans juga setuju, “Kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan hidup sekarang semakin tinggi. Konsumen semakin pemilih, dan mereka memikirkan apakah produk yang dibeli sudah green atau belum. Karena itu, perusahaan juga harus dengerin konsumen, karena kalau tidak, bisa aja konsumen beralih ke brand lain yang lebih eco-friendly,” katanya.

Namun, karena kompleksitas permasalahan sampah, Hans juga merekomendasikan brand/perusahaan untuk bisa bekerja sama dengan sebanyak mungkin pemangku kepentingan (stakeholder) di isu tersebut. Misalnya, dalam hal sampah, sangat penting untuk merangkul peneliti atau komunitas, yang mereka betul-betul terjun langsung ke lapangan dan menelurkan inovasi yang baik.

Dimas juga menjelaskan, “Tahun lalu, kebetulan EcoRanger di Banyuwangi pernah membuat riset tentang masalah lingkungan. Dari segala aspek, memang yang memegang peran terbesar adalah pemerintah. Namun, kita nggak bisa mengharapkan hanya dari satu pihak saja yang bergerak, karena pada faktanya, semua individu punya andil masing-masing untuk mengurangi produksi sampah di Indonesia.”

BCA Digital - melalui blu - sejak awal kehadirannya telah mencetuskan komitmen #blubuatbaik, yang mengajak masyarakat untuk turun tangan dan berkontribusi melestarikan lingkungan, terutama terkait permasalahan plastik. Setiap pengguna membuka rekening baru, blu akan mendonasikan Rp1.000 melalui Kitabisa.com, untuk disalurkan ke pengelolaan sampah yang dilakukan Greeneration Foundation dengan pilot project di Banyuwangi.

“Seharusnya, ketika sedang menghadapi isu sosial tertentu, kita harus bergerak bersama-sama untuk bisa menyelesaikan masalah. Cara yang paling efektif adalah mulai dari diri sendiri. Dalam hal perusahaan, berarti perusahaan harus mulai menjalankan praktik-praktik ramah lingkungan sendiri, dan baru pelan-pelan melebar untuk bekerja sama dengan pihak-pihak lain,” Thara menambahkan.

Nah, ngomongin sampah, sebenarnya bagaimana sih kondisi pengelolaan limbah di Indonesia?

Keempat pembicara blablablu episode 5 ini serentak menjawab bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap isu sampah dan lingkungan sudah jauh membaik dibandingkan dulu. Namun, Dimas mengingatkan bahwa permasalahan sampah akan terus meningkat lebih cepat dari solusinya, karena setiap hari, semua orang menghasilkan sampah masing-masing. Karena itu, sangat penting untuk bisa menumbuhkan kebiasaan pengelolaan sampah yang baik mulai dari sekarang.

Walaupun sudah ada kemajuan, tetapi manajemen limbah di Indonesia mayoritas berujung di Tempat Pembuangan Akhir, ungkap Hans. Opsi ini merupakan opsi yang paling tidak ramah lingkungan, karena sampah hanya ditumpuk sampai menggunung, tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Dampaknya jelas, banyak sumber penyakit hingga pencemaran yang kian parah. Meski Indonesia sebenarnya memiliki regulasi pengolahan limbah yang cukup baik, nyatanya implementasi di lapangan belum berjalan secara optimal.

Walaupun sudah ada kemajuan, tetapi manajemen limbah di Indonesia mayoritas berujung di Tempat Pembuangan Akhir, ungkap Hans. Opsi ini merupakan opsi yang paling tidak ramah lingkungan, karena sampah hanya ditumpuk sampai menggunung, tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Dampaknya jelas, banyak sumber penyakit hingga pencemaran yang kian parah. Meski Indonesia sebenarnya memiliki regulasi pengolahan limbah yang cukup baik, nyatanya implementasi di lapangan belum berjalan secara optimal.

Untuk brand yang besar, Afida menekankan pentingnya Extended Producer Responsibility (EPR), sebuah kebijakan dimana perusahaan bertanggung jawab terhadap produknya yang sudah beredar di pasaran. Mereka bisa mengambil dan mengolah kembali limbah produk supaya tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir. Perusahaan bisa berkolaborasi, misalnya dengan Waste4Change, untuk membantu mengelola sampah perusahaan dengan praktek yang lebih ramah lingkungan.

“Selain itu, blu juga bisa memanfaatkan aplikasinya untuk memberi insentif, misalnya dengan bekerja sama dengan bank sampah lokal, untuk mentransfer saldo dari setoran sampah mereka. Sehingga, aplikasi blu semakin banyak dipakai untuk penanggulangan sampah,” ungkap Afida.

“Selain itu, blu juga bisa memanfaatkan aplikasinya untuk memberi insentif, misalnya dengan bekerja sama dengan bank sampah lokal, untuk mentransfer saldo dari setoran sampah mereka. Sehingga, aplikasi blu semakin banyak dipakai untuk penanggulangan sampah,” ungkap Afida.

Sebagai pesan penutup, Hans merekomendasikan BCA Digital ataupun blu untuk selalu mempertimbangkan aspek lingkungan dalam pengoperasian bisnis. Ia berharap, aplikasi perbankan digital seperti blu bisa terus meningkatkan kesadaran akan isu-isu lingkungan di Indonesia. Sementara itu, Dimas juga berharap bahwa kerjasama blu dengan berbagai pihak, dalam kampanye #blubuatbaik bisa terus berlanjut dengan program pemberdayaan di berbagai daerah.

Wah, seru banget kan? Makanya pantengin terus semua media sosial blu by BCA Digital untuk bisa ikutan blablablu episode berikutnya!

Download Sekarang!

Terima kasih sudah mampir! Laman ini lebih nyaman dinikmati di ponsel pintar. Coba sekarang untuk pengalaman yang lebih maksimal.